Langsung ke konten utama

Puisi Muhammad Tolhah Kumbakarna



Pukul 21.30

 

Pukul 21.30 kita bercengkrama

Kemudian kita saling suap

perihal canda dan air mata

Secuil nasi hinggap disudut bibirmu,

ku usap, kau tertawa

Hingga fajar tiba,

kupeluk kau mesra tanpa arah. 

 

Dingin hawa ruang tunggu RS Adi Husada

Kau genggam tanganku

yang sedang meregang asa

Delapan jahitan dibagian Fibula

agar tidak mengangah luka

Malah takdir yang mengoyak Atma

 

Hai, masihkah kau ingat rasa tembakau

yang kutitipkan 

pada bibirmu yang merona?

 

 

Benang Raja

 

Ketika kita bercengkrama. 

Hujan melantunkan nada. 

Benang Raja melengkung indah. 

Menyaksikan alunan hangat peluk kita.

 

Darah segar keluar 

dari cela Tibia dan Fibula. 

Mengucur indah merangkai kisah. 

Berjuta kisah bertukar lara. 

Kala setia menjelma 

korban putus asa. 

 

Getar tanganmu jadi saksi luka. 

Kisah kita menjadi prahara. 

Ketidakpastianmu 

mengartikan pujangga. 

Penghianatanku 

dalilmu menitihkan air mata.

 

 

Malang 

 

Ini mau hujan,

apa kita teruskan perjalanan?. 

Tanyaku padamu 

prihal ketenangan. 

Biarkan saja,

hujan yang basah 

tidak membuat luka. 

Jawabmu

melingkarkan kedua tangan. 

 

Apa kau bawa pakaian pengganti? 

Biar dingin

tidak terus terusan datang. 

Ah, engkau tidak pernah. 

Janganlah menyuruhku membawa.

 

Hei, perjalanan masih jauh. 

Apa kau masih sanggup? 

Tanyakan pada dirimu,

kau yang di depan. 

Yang membawa kapal perang.

 



Muhammad Tolhah Kumbakarnatinggal di Lamongan. Tukang aduk kopi.

Komentar

  1. Sebuah kisah tau hanya karangan kalimat indah ?

    BalasHapus
  2. Kisah yang masih terjebak pada romantisme masa lalu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...