Langsung ke konten utama

Membaca Teks dengan Tesis

‎

Hari ini saya belajar di kelas 11. Materinya masih berkutat di Bab 1, teks argumentasi. Di awal, pertemuan pertama, saya menekankan poin penting ke mereka, bahwa ada perbedaan antara argumentasi dan eksposisi. Dua teks itu secara isi hampir sama, tetapi tujuannya beda. 

Sama-sama menyampaikan pendapat, menyelipkan data, dan fakta. Namun eksposisi murni pendapat, tidak ada unsur memengaruhi. Meski agak ambigu, karena setiap pendapat biasanya memengaruhi, tetapi perbedaan itu tetap saya sampaikan, agar mereka bisa membedakan dan tidak bingung. 

‎Saya cukup terkesan, teks argumentasi diletakkan di bab 1. Selain untuk melatih mereka berpendapat, teks ini bisa membantu mereka bagaimana cara membaca dan menulis yang terstruktur. 

‎Di arus informasi yang begitu cepat seperti sekarang ini, keterampilan semacam itu menjadi kebutuhan untuk memahami informasi yang datang ke mereka. 

‎Saya mengatakan keterampilan, karena tidak semua murid bisa membaca kritis. Kebanyakan mereka hanya sekadar membaca, tetapi tidak tahu apa sebenarnya yang mereka baca. 

‎Kalau lebih serius lagi, cara memahami bagaimana kerja wacana dalam sebuah informasi. Minimal harus tahu terlebih dahulu apa maksud yang ingin disampaikan penulis. 

‎‎Di samping itu, yang lebih mendasar adalah mereka mampu menganalisis isu. Yang dikhawatirkan dari sekadar membaca adalah mereka tidak memahami apa isu yang dibawa penulis. 

‎‎Isu itu bukan hanya soal tema apa yang diangkat. Lebih dari itu. Ada spesifikasi isu yang dihubungkan dengan banyak konteks. Misalnya isu soal AI. Tidak mungkin semua pembahasan tentang AI ditulis. 

‎‎Ada spesifikasi isu, misalnya, AI yang dihubungkan dengan pendidikan, sosial, psikologi, budaya, atau sejenisnya. Konteks itulah yang perlu didalami, dianalisis, dan dibedah. 

‎Pada strukturnya, mereka bisa belajar itu. Struktur pada teks biasanya dianggap hanya struktur, susunan paragraf, tapi justru memahami teks dimulai dari strukturnya. Di struktur pertama, mereka belajar tentang tesis. Nama lainnya pernyataan pendapat. 

Setelah mereka tahu isunya, lalu mereka lanjut menarik isu itu dengan mencari tesisnya. Tesis sama halnya dengan sikap penulis, pendapat penulis, dan bagaimana posisi penulis terhdap isu. Minimal tahu dulu, dia setuju apa tidak, pro atau kontra. 

‎‎Setelah itu murid bisa meraba, Kira-kira tulisan ini arahnya ke mana. Pro dan kontra sebenarnya tidak ada masalah, asal tesis bisa dikuatkan dengan argumen, struktur yang kedua. Di sana penulis wajib menambahkan data, referensi, dan fakta-fakta lain. Gunanya untuk menguatkan tesis yang sudah ia pilih. ‎

‎Teks argumentasi akan menjadi bahaya, jika di dalamnya hanya ada tesis yang mengambang dan abstrak. Tidak dipenuhi unsur data dan fakta. Padahal itu sangat penting untuk memengaruhi pembaca. 

‎Saat murid tahu alur berpikir memahami argumentasi, maka dampaknya adalah mereka bisa membuat teks yang bagus, lebih rapi, dan mudah dipahami pembaca. 

‎Minimal dengan belajar teks argumentasi, saya bisa bersedekah mengurangi informasi-informasi hoaks di media sosial dengan melatih murid menjadi pembaca dan penulis yang baik. Semoga saja begitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Ikan Bakar

Ikan bakar nila di Pagerwojo Sidoarjo waktu itu memang lezat. Ukurannya besar. Badannya dibelah jadi dua. Sebelum di bekukan, ikan itu sudah dimarinasi. Makanya, bumbunya bisa sangat meresap.  Belum lagi ketika dibakar, lalu diberi bumbu lagi. Ada kecap-kecapnya, sehingga rasanya tambah enak, ada smook-smooknya.  Saya pesan dua porsi dengan paman, adik ke-3 dari ibu. Saat nila bakar itu datang, ibu-ibu dua orang di samping kami spontan langsung melihat.  Agak kurang enak dilihat seperti itu, tapi saya sadar, saya sedang di tempat umum. Otomatis harus rela dilihat orang.  Sepintas saya melihat lagi ibu-ibu itu. Saya berasumsi, mereka spontan melihat kami karena mungkin heran, kok banyak banget pesanannya.  Sedangkan mereka hanya pesan satu ikan bakar dengan dua nasi. Tapi sudahlah, tidak jadi soal. Tidak juga memengaruhi rasa ikan bakarnya. Harganya tidak terlalu mahal, 95 ribu untuk dua nila bakar, dua nasi, dan dua jeruk anget. Sebanding dengan ukuran dan rasan...