Langsung ke konten utama

Pilihan Menu Makan saat Perjalanan Pulang

Seperti biasa. Dalam rangka menjalani rutinitas seminggu sekali pulang ke Lamongan, sering saya di tengah perjalanan mampir ke warung makan yang ada di pinggir" jalan. Jarang sekali direncanakan warung mana yang akan jadi rujukan. Random saja.

Itu juga tidak selalu makan, bergantung kondisi perut. Kadang hanya sekadar ngopi sebentar sambil melepas penat sehabis menyaksikan rumitnya kemacetan di jalanan.

Pulang kali ini berbeda. Sengaja saya rencanakan mau mampir ke mana. Saya coba ingin makan mie ayam Arge di Manyar Gresik. Sudah lama saya tidak makan mie ini. Kebetulan pulang dan ingat, maka segera saya langsung merencanakan ke sana.

Tempatnya sangat mudah dicari. Kalau dari arah Surabaya atau Gresik Kota, tepat depan Polsek Manyar, coba tengok ke arah kanan, ada warung kecil berwarna kuning bertuliskan Mie Ayam Arge. Itu tempatnya.

Porsi mienya sangat banyak. Saya sarankan kalau makan di situ, perut kalian harus benar-benar kosong. Kalau berisi, saya pastikan tidak habis. Beda lagi kalau porsi makan kalian besar.

Mengapa saya pilih mie? Karena saya dengan mie-mie an itu hampir semua suka. Dari tekstur atau bumbunya juga tak begitu paham, yang penting suka gitu aja. Tanpa alasan.

Selain mie, di sana juga menjual bakso. Rasanya tak kalah enak. Sama seperti mie-nya. Kebetulan tadi ke sana belum sore-sore banget, jadi masih kebagian mie-nya. Kalau terlalu sore, biasanya hanya tinggal bakso saja.

Saban kali saya mampir ke tempat makan yang olahan seperti ini. Selain rasa, saya juga tertarik dgn cara penyajiannya. Di tempat ini, bapak" pemasak mie-nya tak pelit. Cara menaburkan bawang dan potongan ayamnya unik. Tidak pakai sendok, tapi pakai entong nasi. Itu pun tidak sekali ambil, tapi bisa dua sampai tiga kali. Bisa dibayangkan seberapa banyaknya.

Selain rasa dan penyajiannya, ada satu keunikan lagi dari warung mie ayam ini. Tutupnya lama sekali, bisa berbulan-bulan. Tapi kalau sudah buka, sehari saja, pasti banyak yang nyerbu. Sama seperti kalian saat bertemu pacar setelah lama tak jumpa berbulan".

Kalau kalian ingin makan sambil menikmati macetnya Gresik di sore hari, tempat ini bisa saya rekomendasikan untuk kalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...