Langsung ke konten utama

Paulo Coelho: Bincang Tuhan dan Agama

Sumber Gambar: Paulo Coelho - ussfeed.com

Paulo Coelho merupakan salah satu penulis asal Brazil yang gemilang. Karyanya telah banyak diterjemahkan di berbagai negara. Ia lahir di Rio de Janeiro, Brasil pada tanggal 24 Agustus 1947. Ketika remaja, ia tumbuh menjadi seorang remaja pemberontak hingga orang tuanya membawanya ke rumah sakit jiwa tiga kali. 

Pada saat berusia 38 tahun, ia mengalami kebangkitan spiritual di Spanyol hingga lahirlah buku pertamanya, The Pilgrimage. Selain buku tersebut, karya lainnya berjudul The Alchemist telah menjadi salah satu buku tersukses yang terjual hingga 35 juta kopi dan merupakan buku terjemahan paling banyak di dunia oleh seorang penulis yang masih hidup.

Juan Arias seorang jurnalis Spanyol menerbitkan sebuah buku berjudul “Paulo Coelho: Obrolan dengan Sang Peziarah” yang berisi wawancaranya antara Juan dengan seorang Coelho. Dalam buku tersebut, banyak diungkap sisi Coelho yang jarang diketahui publik. Salah satunya berkaitan dengan rumah sakit jiwa, penjara, kaum hippies, dan berbagai hal menarik lainnya. 

Salah satu topik menarik dari wawancara tersebut ialah pandangannya terhadap Tuhan dan agama. Meskipun disajikan secara minim, namun pandangannya terhadap agama dan keyakinan tidak bisa diabaikan dan dibiarkan terlewat begitu saja.

Tentang Tuhan

Ketika Juan bertanya kepada Coelho tentang arti Tuhan baginya, ia menjawab bahwa itu adalah sebuah pengalaman iman. Tak lebih. Sebab Coelho sendiri beranggapan bahwa mendefinisikan Tuhan merupakan sebuah jebakan. Ia pernah ditanya hal serupa pada sebuah konferensi. Ia menjawab “Entahlah, Tuhan maknanya tidak sama buat saya seperti buat Anda” (Arias, 2012:44). 

Coelho kemudian melanjutkan bahwa itulah yang setiap orang rasakan, bahwa tidak ada pendefinisian Tuhan yang pas untuk semua orang, karena hal tersebut adalah sesuatu yang bersifat personal. 

Berdasarkan pandangannya tersebut, dapat diketahui bahwa pendefinisian Tuhan menurut Coelho adalah sesuatu yang bersifat pribadi. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing tentang makna Tuhan bergantung pada pengalaman keimanan yang dialami dalam hidupnya.

Dalam bagian lain buku, Coelho menambahkan:

“Jika ada yang datang dan memberitahumu: Tuhan itu begini, begitu, Tuhanku lebih perkasa dari Tuhanmu. Itulah awal dimulainya perang. Satu-satunya jalan untuk lolos dari semua itu adalah memahami bahwa pencarian spiritual adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa dialihkan atau dipercayakan pada orang lain” (Arias, 2012:31).  

Mengagung-agungkan Tuhan yang dipercaya dan merendahkan Tuhan orang lain ibarat percikan api yang akan meyulut tumpukan jerami. Sebagai manusia yang hidup di dunia yang memiliki ragam agama dan kepercayaan, bukan hal yang bijak jika membandingkan-bandingkan Tuhan dalam kepercayaan lain, apalagi sampai mengagung-agungkan Tuhan pribadi dengan Tuhan orang lain. 

Coelho mengungkapan bahwa pencarian spiritual merupakan tanggungan pribadi yang tidak bisa dialihkan atau dipercayakan pada orang lain. Setiap orang memiliki alurnya sendiri, kisahnya sendiri, dalam pencarian dan pemaknaan Tuhan yang dipercaya.

Tentang Agama

Perihal agama dari perspektifnya, Coelho mengungkapkan bahwa ia melihatnya sebagai sekelompok orang yang menemukan cara kolektif untuk menyembah (Arias, 2012:31).  Ia juga menambahkan bahwa sekelompok orang ini bisa saja menyembah Buddha, Allah, Tuhan Yesus, tidak masalah. 

Hal yang harus dijadikan pijakan adalah pada saat penyembahnya terhubung dengan misteri, (dalam hal ini dapat juga dimaknai sebagai manifestasi Tuhan) penyembahnya merasa jadi lebih bersatu, lebih terbuka pada hidup dan sadar bahwa ia tidak sendirian di dunia ini, bahwa ia jua tidak hidup terisolir. Itulah agama menurut Coelho, bukan seperangkat aturan dan tatanan yang dipaksakan oleh orang lain.

Ketika Coelho ditanya perihal instansi keagamaan yang kerap menyalahgunakan kekuasaan dan membelenggu tidak sedikit pikiran, ia menjawab tidak ada masalah, karena Coelho tahu cara membedakan hakikat agama dengan perilaku para penganutnya,  yang bisa baik atau buruk dan bisa menyalahgunakan agama (Arias, 2012:34). 

Coelho memandang agama sebagai sekelompok orang yang membentuk suatu tubuh hidup yang berkembang dengan semua aspeknya yang menggiriskan maupun yang sublim.


Daftar Rujukan:

https://www.kutipkata.com/pengarang/paulo-coelho/paulo-coelho-020/ diakses pada tanggal 2 Maret 2021.

Arias, Juan. 2012. Paulo Coelho: Obrolan dengan Sang Penziarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.




Penulis :

Ahmad Burhanuddin - Guru Bahasa Indonesia di SMA Ta'miriyah Surabaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...