Langsung ke konten utama

TINDAKAN BUNUH DIRI DALAM CERPEN “LELAKI YANG MENIKAHI SEPI” KARYA M IKHWANUS S

 

Bunuh diri saat ini seakan menjadi fenomena yang sering terdengar di kalangan masyarakat. Melalui berita, surat kabar, tidak jarang kabar mengenai seseorang yang mengalami bunuh diri. Bahkan sampai ada beberapa tempat yang cukup terkenal sebagai tempat untuk bunuh diri, seperti hutan aokigahara di Jepang. Dikutip dari tahupedia.com, pada tahun 2010 kurang lebih dua ratus orang mengakhiri hidupnya di lokasi tersebut. Hal itu membuktikan bahwa banyaknya kasus bunuh diri yang terjadi di selururuh belahan dunia.

Dalam karya sastra, juga ada yang mengangkat tentang kisah  bunuh diri. Salah satu karya sastra yang mengangkat tema bunuh diri adalah cerpen berjudul “Lelaki yang Menikahi Sepi” karya M Ikhwanus S yang dimuat dalam surat kabar Minggu Pagi. Cerpen tersebut menceritakan seorang tokoh yang bernama Mahrus. Ia mendadak hilang dari berbagai aktivitas yang biasa ia lakukan di kampungnya. Banyak warga yang bertanya-tanya tentang keberadaan Mahrus yang seakan lenyap dari peradaban. Salah satu orang yang berasa akan kehilangan Mahrus adalah Wak salim. Wak Salim mendatangi rumah Mahrus, namun di rumah yang bertembok kayu itu ia tidak dapat menjumpai Mahrus. Hingga beberapa warga juga penasaran kemana perginya Mahrus. Para warga akhirnya mendobrak rumah Mahrus, dan menemukan mayat Mahrus yang telah tergantung di langit-langit.


Alasan tindakan bunuh diri yang dilakukan tokoh Mahrus
Orang-orang yang melakukan percobaan bunuh diri berharap untuk dapat lari dari rasa sakit psikologis yang tidak tertahankan dan kemungkinan memersepsikan bahwa tidak ada jalan keluar lain (Shneidman dalam Nevid, 2003:265). Artinya, beberapa orang yang memiliki niatan untuk bunuh diri  dikarenakan ingin terbebas dari rasa sakit psikologis yang dideritanya dan beranggapan bahwa memang sudah tidak ada jalan lain.

Sosok Mahrus yang dihindari oleh seluruh warga menimbulkan tekanan psikologis dalam benak Mahrus. Banyak warga yang membicarakan hal-hal buruk tentang Mahrus seperti pada saat kenduri yang diadakan istri Wak Salim. Ada warga yang mengatakan bahwa saat Mahrus berkeringat, bau badannya sama dengan air kencing tikus. Hal tersebut membuktikan bahwa Mahrus sering mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan oleh warga di kampunya. Bukan hanya sekadar tidak menyukai saja, tetapi juga warga mengolok-olok Mahrus. Hal tersebut jika dicerminkan pada kehidupan sehari-hari tentu saja akan menyakiti hati sekaligus membebani psikologi seseorang yang diejek.

Tidak hanya warga, satu-satunya keluarga yang dimiliki Mahrus yaitu Budhenya saja tidak mau memperhatikan Mahrus. Budhenya sangat sibuk dengan toko sembako yang ia kelola. Sehingga sangat sedikit waktu luang yang budhenya miliki. Saat Mahrus meminjam uang senilai satu juta rupiah, budhenya enggan untuk meminjami Mahrus dan malah mencaci drinya. Hal tersebut tentu saja membuat siapapun termasuk Mahrus beranggapan bahwa sudah tidak ada yang memperhatikan dirinya lagi bahkan satu-satunya keluarganya sekalipun.

Beban berat yang harus ditanggung Mahrus yang lainnya adalah ketika tabungannya ludes karena ditipu oleh Wah Salim. Wak salim berdalih usaha yang dijalankannya gulung tikar, sehingga ia tidak bisa mengembalikan modal Mahrus. Hal itu tentu saja membuat Mahrus sangat terpukul dan tudak bisa berbuat apa-apa. Hal itu sungguh ironi karena ketika hilangnya Mahrus, keluarga Wak Salim malah membeli motor baru. Tekanan-tekanan psikologi tersebutlah yang mengakibatkan Mahrus memutuskan untuk gantung diri.


Dampak tekanan psikologi  yang diterima tokoh Mahrus
Tekanan psikologi yang diterima Mahrus akhirnya berdampak pada perilakunya. Sesaat sebelum menghilang dan ditemukan gantung diri di rumahnya, Mahrus mulai berperilaku aneh dan tidak wajar, salah satunya adalah mencuri kucing milik sepupunya dan memasaknya sehingga menimbulkan bau gurih yang lain di udara. Selain itu terdengar teriakan-teriakan Mahrus pada malam hari. Hal itu menandakan bahwa Mahrus sudah sangat tidak kuat menahan beban mental yang selama ini ia terima dari warga dan budhenya sendiri dan memutuskan untuk gantung diri.

 


Daftar Referensi:

Nevid, Jeffrey S., dkk. 2003. Psikologi Abnormal Buku Pertama (Edisi Ke-5). Terjemahan Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

http://www.tahupedia.com/content/show/1469/10-Tempat-Bunuh-Diri-Terkenal-Dari-Berbagai-Negara-Di-Dunia diakses pada tanggal 10 Desember pukul 18:12

https://lakonhidup.com/2019/11/22/lelaki-yang-menikahi-sepi/ diakses pada tanggal 7 Desember pukul 21:03

 




Penulis :







Ahmad Burhanuddin kelahiran Lamongan, 18 April 1997. karyanya banyak termaktub di berbagai antalogi puisi bersama. Saat ini penulis berdomisili di Surabaya. Kesibukannya sekarang sedang mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail: burhanuddinahmad12345@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...