Langsung ke konten utama

Aku Berani Menyapamu

Malam adalah cerita masa silam yang cukup lalai, ku ingat sebilah rembulan dan sepotong bintang jatuh di matamu. Malam itu, kau meninggalkan kata-kata, berenang ke pemukiman air mata, menjadi tempat layu jadi mekar, embun jadi kado pesta ulang tahunmu. Sesekali aku mengingat, kau berusaha menjadi dirimu, gelas-gelas kering yang teriak nama kecil, kau seperti mereka saat bermain kelereng satu lawan satu.

Aku mencintaimu dari kado yang datang malam itu, bukan kau yang mengantarnya. Aku memungutnya bersama para kawanan tukang sampah dan anak-anak mereka. Kado itu berupa beberapa pertanyaan yang mengingatkanku di bangku anak-anak.

Ingatan tentang siang hari para tetangga yang berkumpul bercerita tentang tetangganya masing-masing. Perihal jodoh dan cita-cita anaknya mencari bulan siang hari.

Ibuku tetap di rumah, menjadi ibu paling baik dari ibu-ibu yang lain. Menjaga kesucian kata-katanya, mirip angin memelihara bunga melati, jadi putih, ranum harum bunga ketumbar.

"Cintamu, ibu harap sepi dari keramaian, agar kamu tahu, orang lain terpenjara pada puisi mereka sendiri, pada bahasa-bahasa ruang yang tertidur di sebilah tanah, mendekap air tenang yang mengangah"

Aku berani menyapamu, diiringi gelap dalam suara hening. Jalan bait-baitku yang berlarian ku tangkap. Di balik bahasa yang ku sentuh, di balik cerita yang ku sembunyikan, di balik pertanyaan yang aku samarkan. Aku memintamu jadi nama yang dimudahkan.



  • Surabaya, 3 Oktober 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...