Langsung ke konten utama

WAKTU TERAKHIR KEMBALI

Waktu semakin gelap, nama-nama tersebar di mana-mana. Aku percaya kau terlalu bahagia melupakan hari kemarin. Seperti doa yang lupa kau sebut dan angin yang lupa jalan kembali. Terakhir kali waktu turun mendekat tanpa kata-kata. Ia diam mengunci mulut tiap kali jendela terbuka.

Angin membuatku lebih marah, ia membawa cerita pergi dari tanganmu. Aku bingung bagaimana berjalan jika mataku setengah sadar. Dari mata, aku membuka masa yang pernah ku impikan dari kecil. Bermain mobil-mobilan sampai lututku terluka dan menangis pulang ke rumah. Aku beraharap kepulanganmu jangan ada tangis. Ku lihat doa-doaku mengalir bertamu sambil mengecup jalan yang kau lewati. 

Pantai tempat favoritmu melihat kapal-kapal berlayar membuka nasib, di samping pasir pantai yang tak kau sukai warnanya. Tapi kau menyukai gambarnya. Aku sedikit hafal apa yang kau sukai dan tak kau sukai. Aku pernah ingat kau menangis di pojokan kelas di lantai satu. Kau menangisi dirimu sendiri yang tak kunjung selesai berkaca, menatap wajahmu sambil mengenakan baju seragammu dan kau jumpai pada cermin bukan dirimu tapi tangismu.

Anak kecil yang sering dibuat marah soal memilih orang baik. Tangan tak mungkin bisa memilih antara mereka. Tanah dihuni bukan rumahnya atau menjadi luas sebab negara tak punya batasan terhadap dirinya.

Orang asing yang makan di trotoar bersama kawannya. Tiap pagi ibu-ibu menyapu kotoran sisa kejahatan yang dilakukan dengan mendekapmu saat tidur. Matamu tidak bisa melihat mana yang jernih dan kotor. Urat nadimu seolah berhenti, sama seperti mereka, hatinya tertutup senyum orang asing yang mereka anggap anaknya sendiri. Sembari dipangku, aku melihat ia dikenakan baju dan dilayaninya seperti bapak yang lupa tentang apa bahasa terakhir yang sudah ia sampaikan.

Asap di langit yang tidak pernah berubah jadi doa atau hujan yang menjelma kekasih di tengah padang pasir. Aku menganggap doa adalah ibu kandung yang menyusui di tengah malam menjadi pundak paling kuat serta air laut yang tak pernah habis.


20 Juli 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...