Langsung ke konten utama

POJOK MALAM

Embun terbelah cahaya bersinar dari gelap
Tetesan terpusat dari kalbu terbawa seringai burung-burung
Pohon-pohon menghujat diriku
Bahwa aku mulai menggoda manis wajahmu
Senyummu membelah harga dari duri
Tergurai indah rambut tengkurap tidak kuartikan
Kuhendakkan diri mengenal wajah berwarna haru

Pojok malam tergurai cahaya bekas pagutan tentangmu
Aku mengukir indah bahasa tubuhmu di urat-urat dedaunan
Terbawa angin yang terbuat dari sajak para penyair sunyi
Sejak malam tak dapat aku artikan gelombang tawamu
Antara terima bahkan bertamu
Pada butung hantu saat sendu

Kenyaringan tak tersampaikan pada masa lalu
Yang terbawa oleh aku dan dirimu
Ayo beradu di dalam cinta daku
Akan ku ikhlaskan jika tak terimanya diriku
Diiringi suara musik dengan kepulan asap yang tak bertepi
Tanpa ada jarak jika aku mngenalmu

Terseringai rerumput dan setetes embun pagi itu
Terpancar dari tubuhku yang kuharap mawar datang bersamamu
Tapi melati birahi menjelma dari sudut-sudut keheningan
Samar-samar tak pasti
Sampai pucuk-pucuk dari sunyi bertemu
Berkata "itu dia, dari aku, bukan untukmu"

Mengikhlaskan kedua sunyi itu
Dari sunyi tak bicara pada goyangan sayap burung
Terlepas dari semua kenangan mawar hitam
Dengan getaran dan hujatan aku tahan bersama detak nadiku
untuk melepas takdirku


                                                                                                         Lamongan 23 April 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...