Langsung ke konten utama

Yang MULIA

Tempat macam apa menyulut kami.
Sistem macam apa yang mengiris kerinduan kami.
Watak tersimpuh pada kotornya keadilan.
Awan seakan akan takluk oleh setajam ilalang yang hilang.
Hati utuh bergerak namun tertada.
Kita memang bisa bicara namun apa?
Hanya telunjuk bersaksi adanya.
Mulut tersentak tapi tak seotak
Janji bisa saja serupa
Tapi bukti tak beda nyata
Orang-orang melelehkan senja di karangan
Kaum suci menajiskan diri di selokan
Sedangkan Kaum najis mensucikan diri di belakang pekarangan
itu macam rupa tapi tak tertanda
Anak cerdas lari di pekarangan orang
Demi menuntut saat pengakuan
Yang mulia disini bisa apa?
Cuma ya ya ya tak berubah
Yang mulia sulit dipercaya
Hamba mulia pun tak mempercayainya.
Mau tidak mau itu yang mulia penjaga daerah wilayahku
Wilayah ciptaan tuhan atas kuasanya
Ku berdiri setapak dengan tegak di tanah kekuasaanku
Terbentak jarak seirama tanpa senoda
Kalau hatimu berlandas cinta
Maka keikhlasan menggiring sukmamu
Kalau hatimu berlandas kebencian
Maka imbalan menyerimpung nuranimu
Menggores akal sukma nadimu
Namun harus ku percya
Ini ada bersama cinta
Tonggak sejarah adabnya dunia
Cikal bakal percya akan cinta ku padaNya

Ahmad Baharuddin Surya
Lamongan
18/02/2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Ketika Koran Sudah Tidak Punya Nilai Jual Lagi

Saya hari ini di kelas membawa banyak koran dari berbagai media. Ada Kompas, Jawa Pos, dan Kontan. Semuanya koran-koran bagus. Bahkan sering menjadi langganan banyak orang, lembaga, dan perkantoran.  Untungnya, tiga koran itu sudah menjadi langganan sekolah sejak lama.  Sebenanrnya ada satu langganan majalah lagi, yaitu Tempo, majalah progresif dan kritis yang didirkan Gonawan Mohammad. Secara selera bacaan, sekolah tempat saya mengajar sudah cukup baik, pasalnya, mau koran apa lagi kalau tidak tiga jenis koran itu. Tidak ada pilihan lain. Mayoritas para rival mereka seperti Sindo, koran Tempo juga sudah tidak ada.  Apalagi Kompas, koran dengan punya litbang sendiri. Survei-surveinya juga menarik. Sangat gen Z kalau kata anak-anak sekarang. Mengambil data dari berbagai masalah terkini. Datanya juga disajikan secara naratif dan deskriptif. Para siswa bisa membaca dengan mudah. Cocok dengan materi mereka, yaitu memahami informasi dari mana saja. *** Koran-koran itu selalu t...