Langsung ke konten utama

KELABU INDAH MERANA MERONA

Sajak roda malam berpagar tanaman
Lampu neon terukir dalam surat bahasamu
Aku berguling diruang irama senja yang berpautan
Hati menusuk waktu dalam ratapan sendu
Roda memutar pada rona bilik kesucian
Pada angin, pada hidup memandang semu pada sosok kelabu
Rumah tuhan
Balkon tuhan
Tembus angan surga
Berkelok – kelok diatas pusaran garis pandangan
Ratapan anak malang di sudut penderitaan rakyat jelata
Tuhan bermakna
Tapi tidak pada intisari kata
Berujung di sandaran pundak belalang yang hinggap di ilalang
Tubuh melayang pada garis biru uraian soal air mata
Dalam rindu
Bertuliskan gores goresan kecup paras menggoda
Sejarah berlilit hasrat memikat rupa
Bergeming diantara pasir hitam di balik rerumputan
Rasa hitam mengecap dari pusatnya pangkal lidah
Seakan angan – angan pudar dalam wajah tuhan
Tapi di balik layar tersenyumlah gelombang kemesraan tokonya alam
Berpautan, berpancingan dari sukma – sukma kecil yang hinggap di urat saraf tuhan
Tertipu indahnya api yang menyambar pada naungan bunga
Ternoda pada pijakan hasrat nafsu bimbang
Ketika seelok bungah teratai yang disinari secuil matahari basah
Berbagai rona wangi di dasar surga
Dosa bertelanjang di depan jalanan
Menghampiri anak yang menjilat pasir trotoar
Jatuh hinggap di jalanan petinggi dusta
Menjama mulut dangkal di pelipis peradapan
Berkelopak selayar jauh kaki melayang
Menyangga perumpamaan
Tanpa perwujudan

Mendorong rindu bertatap sendu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Menghormati Usia Senja dengan Berkarya

Bagi Budi Darma, mungkin menulis sudah menjadi bagian jalan hidupnya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk menulis, di samping kegiatan dia yang lain. Usia tidak terlalu jadi masalah. Ia tetap menyediakan waktu dan tenaga untuk menulis.  Saat saya praktik mengajar di SMKN 2 Probolinggo. Di sana punya mading etalase yang dipasang di lorong utama tempat siswa berjalan. Mading tersebut setiap hari selalu menempelkan koran yang dipisah per rubriknya. Saya masih melihat Budi Darma menulis opini di kompas.  Padahal usianya sudah senja dan saya masih ingat, kalau tidak salah sepertinya itu opini terakhir yang ia tulis sebelum menghadap di haribaan Tuhan, karena tidak lama dari itu, saya mendengar kabar dukanya ketika masih di Probolinggo. Konon, masa tua orang siklusnya berputar. Sangat rentan kembali menjadi anak-anak. Sulit diatur, terlalu imajinatif, dan kurang matang dalam menyikapi persoalan orang dewasa.  Namun berbeda dengan sebagian orang seperti Budi Darma, meski s...