Langsung ke konten utama

Tertawa Lepas di Sabana

Suara kehidupan
Terlepas riang terbawa ingatan
Sampai ke sabana
Terhanyut melodi saat dekapan hangat bersamamu
Sukma angin berhamburan beriring cemara tutur tindakmu

 terniang wajah anggun yang berpaling
Dari serawut luka hitam bersua
Namun Kedamaian membawa dekapan tanpa makna
Di mimpi rangkulan mesra sudah berbeda
Ketika mereka terbawa hanyut dari kegugupan

Lubang kecil semakin lebar
Tertimbun anggukan aroma duri di kepala
Mereka bisa tertawa lepas di sabana
Sampai lubang kecil tertutup dengan bara berduka
Bersua, makan, minum, bersama diatas genggaman-genggaman yang terlewatkan


Surabaya 20-04-2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Hafidz Quran Bisa Hafal Cepat di Usia Dini, Salah Satunya Menghafal di atas Pohon

Bilal wajahnya tampak sumringah saat ia turun dari panggung wisudah. Sambil menenteng ijasah tahfidnya, ia berlari menghampiri orang tuanya. Tanpa sadar, air mata bahagianya menetes pelan-pelan. Mereka memeluk Bilal dengan penuh syukur. Mereka sangat bahagia, anak bungsunya berhasil menghafal Al-Quran 30 juz di usia yang tergolong sangat dini. Kelas 1 SMA, baru berusia 16 tahun.  Di saat anak seusianya bermain dan bersenang-senang, nongkrong di warung, main game, pacaran, tawuran, dan sebagainya, Bilal mencoba menahan beragam godaan duniawi itu. Bukan berarti ia tidak bermain, tetapi kadar mainnya ia kurangi demi mewujudkan harapan orang tuanya, yaitu menjadi hafidz Quran.  Melarang Anaknya Bermain, tapi Menyediakan Billiard di Rumah Orang tuanya sangat mengerti keadaannya. Meski dibatasi, mereka tidak membiarkan anaknya tidak bermain begitu saja. Mereka mendukung anaknya bermain dengan cara mereka menyediakan media permainan sendiri di rumah. “Di rumah ada kok mainan. PS juga...

Inner Child itu Nggak Lucu, Malah Jadi Simbol Kemiskinan

Banyak dari kita pasti pernah mengalami rasa ingin kembali lagi ke masa kecil. Ingin mengulangi masa di mana hidup sangat sederhana, sebatas main, tidur dan sekolah. Masalah yang ada pun tidak sekompleks setelah kita tumbuh dewasa. Kalau menurut saya tumbuh besar itu tidak enak.  Satu dari sekian banyak yang dikangeni dari masa kecil adalah masa bermain. Hal itu bukan tanpa alasan, sebagian besar hidup kita saat kecil, dihabiskan dengan bermain. Tak ayal, satu dari sekian kenangan ini bisa sangat membekas bahkan terbawa hingga dewasa. Banyak orang dewasa yang ketika melihat mainan atau permainan, rasa ingin ikut bermain juga ikut tumbuh.  Dari sini saya mulai berpikir, apakah masa kecil tidak ada habisnya? Lihat saja tempat-tempat hiburan seperti pasar malam, tidak sulit melihat bapak-bapak di area permainan yang (mungkin dengan alibi) mengajak main anak mereka. Padahal mereka sendiri sangat ingin memainkan permainan tersebut. Bagi orang dewasa, hiburan seperti mainan atau per...

Ikan Bakar

Ikan bakar nila di Pagerwojo Sidoarjo waktu itu memang lezat. Ukurannya besar. Badannya dibelah jadi dua. Sebelum di bekukan, ikan itu sudah dimarinasi. Makanya, bumbunya bisa sangat meresap.  Belum lagi ketika dibakar, lalu diberi bumbu lagi. Ada kecap-kecapnya, sehingga rasanya tambah enak, ada smook-smooknya.  Saya pesan dua porsi dengan paman, adik ke-3 dari ibu. Saat nila bakar itu datang, ibu-ibu dua orang di samping kami spontan langsung melihat.  Agak kurang enak dilihat seperti itu, tapi saya sadar, saya sedang di tempat umum. Otomatis harus rela dilihat orang.  Sepintas saya melihat lagi ibu-ibu itu. Saya berasumsi, mereka spontan melihat kami karena mungkin heran, kok banyak banget pesanannya.  Sedangkan mereka hanya pesan satu ikan bakar dengan dua nasi. Tapi sudahlah, tidak jadi soal. Tidak juga memengaruhi rasa ikan bakarnya. Harganya tidak terlalu mahal, 95 ribu untuk dua nila bakar, dua nasi, dan dua jeruk anget. Sebanding dengan ukuran dan rasan...